Minggu, 29 November 2015

Hijrah ke Dunia Kesehatan

Adek ku sedang Homecare
       Tak menyangka adik pertamaku mengikuti langkah ku kuliah dibagian kesehatan. Hijrah jurusan kata ku. Kenapa?  karena mama, bibi, sepupu dan masih banyak lagi keluarga kami yang memilih menjadi guru. Sedangkan bapak, paman-paman, sepupu laki-laki lebih memilih menjadi pengusaha mabel kecil-kecilan.
Menjadi keturunan pertama sebagai tenaga kesehatan mempunyai rintangan besar. Kadang kala kami dianggap tahu segalanya mengenai obat dan penyakit yang diderita seseorang. Padahal seperti kebanyakan kami hanya manusia biasa yang hanya tahu sedikit namun terus belajar dan belajar.
Ada kebangga dalam hati kami saat bisa membantu keluarga yang sedang sakit. Walaupun hanya sekedar mengukur tekanan darah atau memberikan info obat yang boleh dimakan serta dosisnya.

     Adik ku baru lulus sekitar 1 tahun yang lalu. Walaupun belum mendapat pekerjaan tetap namun ia tak putus asa mencari rezeki. Alhamdulillah 2 bulan ini bekerja sebagai tenaga bantu dinas sosial dalam program homecare usila Desa pasir Kecamatan Mempawah hilir Kalimantan Barat. Mengerjakan tumpukan data base usila dan kunjungan kerumah usila merupakan kegiatannya sekarang. Adek ku juga pernah menjadi perawat pribadi di Kota Pontianak. Namun karena waktu kerja hampir 24 jam. Ia merasa kelelahan dan memutuskan berhenti sebagai perawat pribadi.

   Menjadi seorang bidan adalah cita-cita ku dari SMA. Alhamdulillah 3 tahun menimba ilmu di Stikes Istara Nusantara Jakarta. Pada tahun 2008 aku lulus dengan IPK memuaskan. Pulang ke kota kelahiran lalu membantu ke BPS (Bidan Praktek Swasta) bidan senior disana. Tahun 2010 akhirnya mendaftar sebagai Bidan PTT (Pegawai Tidak Tetap) dengan SK Menkes dan gaji dari APBN.
Hidup terus berjalan, hingga menikah dan punya anak. Masih berstatus PTT sekarang. Mudah-mudahan rencana besar diawal tahun menjadi kenyataan. Aamiin...
Menjadi tenaga kesehatan mengenalkan aku dan adek ku tentang cara merawat orang lain, menjadi lebih empati, lebih sabar dan lebih bersyukur saat diberikan kesehatan. Mudah-mudahan kami selalu istiqomah dan iklas membantu banyak orang. Keluarga terdekat, masyarakat sekitar dan warga tempat kami berkerja.
3 bersaudara


Pengabdian Bidan Desa

Lelah bekerja seharian kadang sudah tidak terasa. Ketika ada panggilan untuk menolong persalinan didesa. Walaupun dalam keadaan sakit atau cuaca sedang hujan. Bidan desa harus menolong ibu yang akan bersalin. Merasa ini adalah suatu kewajiban hingga tak ada alasan sepertinya untuk menolak.
Pagi, siang, malam, tengah malam kadang subuh waktu berkerja mereka 24 jam. Kapan pun panggilan untuk menolong persalinan, dimana pun harus siap membantu.
Tak tanggung-tanggung, bertaruh menyelamatkan dua nyawa. Ibu dan anak yang dikandung. Ketika dua nyawa itu tertolong dengan selamat. Betapa bersyukurnya mereka kepada Allah yang telah memberikan segala kemudahan.

7 hari yang lalu (20/11/2015), kami mendengar berita duka dari pedalaman kalimantan barat. Teman seprofesi meninggal dunia setelah membantu persalinan 2 orang ibu didesa tempat ia mengabdi. Desa Darit, Kecamatan Manyuke, Kabupaten Landak. Bidan Anik Setya Indah namanya.
Bidan baik hati ini, selalu ringan tangan membantu. Selalu tulus dalam tugasnya. Bidan Anik meninggal karena solusio plasenta yaitu lepasnya plasenta dari dinding rahim. Begitu diagnosa medis dari RSUD Landak tempat ia dirujuk. Bidan Anik sedang hamil delapan bulan saat meninggal dunia. Sedih, kehilangan, dan bangga atas perjuangannya.

Berita belasungkawa di koran Tribun Pontianak
Kadang kala kami abai dengan kesehatan kami sendiri. Padahal nyawa kami juga dipertaruhkan saat pulang dan pergi membantu persalinan di rumah warga. Jalan bebatuan, licin, berlumpur, sungai, arus dan sebagainya adalah medan yang harus kami lalui. Tapi sekali lagi, Kewajiban kami membantu kelahiran generasi penerus bangsa. Kami tak boleh mengeluh.
Sumpah jabatan sudah digaungkan. Kontrak tugas sudah di tandatangani, siap bertugas dimana pun. Desa biasa, terpencil atau pun sangat terpencil. Berstatus tenaga tetap atau tenaga tidak tetap (PTT).
Harus Menyeberangi sungai untuk sampai didesa binaan
Namun ada senang yang teramat besar dihati kami. Saat bayi yang kami tolong tumbuh besar dan sehat. Ketika Ibu mereka mengenalkan kepada mereka bahwa kami adalah bidan yang membantu kelahirannya. Senyum manis mereka membayar lelah diraga dan jiwa kami. Berharap terus memberikan pelayanan terbaik bagi warga, walaupun jasa yang dibayar tidak seberapa. Semoga Allah membalas keiklasan hati kami dalam bekerja. Bahkan beberapa kali jasa kami tak dibayar warga. Entah mereka lupa atau sengaja melupakan betapa penatnya kami. Namun kami terus tersenyum, terus melayani dengan suka cita.



Jumat, 12 Desember 2014

Kisan inspiratif siang ini


  Bismillah...
   Menetes air mata ini tak kala membaca postingan Ustad Luqmanulhakim di facebook.
   Ketika senang, kita hampir lupa mendekatkan diri pada pencipta kita Allah SWT.  Melalaikan sholat,  tidak pernah mengaji, meninggalkan sholat-sholat sunnah, melupakan puasa sunnah sampai tidak menutup aurat dengan benar selayaknya seorang muslimah. Subhannallah bergetar hati kecil saya.
Siang ini entah mengapa ingin sekali secepatnya sholat dan membaca ayat-ayat Alqur'an lagi. Namun masih dalam keadaan haid. Hingga memilih untuk mendengarkan Morotal saja.
   Disaat-saat susah bahkan masih melupakan penolong yang hakiki yaitu pertolongan dari Allah SWT.  Dalam keadaan terlilit hutang, kesusahan dan sebagainya masih saja melalaikan perintah Allah. Padahal pertolongan yang paling baik dan paling dekat hanya dari Allah. Tapi kita lupa.
   Mengutip postingan dari Ustad Luqmanulhakim di Panspage nya Luqmanulhakim & Tim MAY. Diceritakan dari kisah nyata seorang pria yang terlilit hutang sebesar 70 juta rupiah, sebut saja namanya ahmad dan kemudian memutuskan unuk berbisnis dengan Allah. Bagaimana caranya? sedangkan seharusnya orang yang sedang terlilit hutang harus berkerja lebih keras agar hutangnya terbayar.
Namun tidak dengan ahmad, dia malah mendekatkan diri kepada Allah dengan lebih banyak sholat dimasjid, mengaji di masjid bahkan ikut membantu mengambar desain renovasi masjid tanpa dibayar. kebetulan ahmad orang teknik.
Setelah beberapa minggu mendekatkan diri kepada Allah, si penagih hutang pun mulai meminta bayaran sedangkan ahmad tidak mempunyai uang sepeser pun. hutang yang harus dibayar sebesar 18 juta ( cicilan pertama) jam 12 siang besok. Apa yang dilakukannya? Ahmad tidak mengurangi tauhid nya kepada Allah. Hari yang mendebarkan pun datang, beliau memulai hari itu dengan sholat sunnah dhuha , mengadu pada sang Khalik. Tak berapa lama selepas dhuha telpon pun berdering. ternyata dari seorang teman yang ingin memberikan uang hasil proyek yg dikerjakan bersama beberapa waktu lalu. Maka dapatlah ahmad uang sebesar 5.000.000,- . Alhamdulillah, Maha Besar Allah.
Kemudian beberapa saat sebelum dzuhur, ahmad mendapat telpon dari seorang pengusaha yang ingin meminta bantuannya menghitung proyek yang akan dikerjakan. Pertemuan singkat sebelum dzuhur diakhiri dengan DP tanda jadi dari pengusaha tersebut ke ahmad. Maka dengan waktu singkat terbayarlah hutang 18 juta tersebut. Alhamdulillah
" Sangat Hebat cara kerja Allah! saya dan banyak teman-teman dipondok yang mulai membenahi bangun subuh mereka dan merapat ke ALLAH mulai merasakan keajaibanya. kini giliran kawan-kawan yang sedang baca tulisan ini.. kapan mau mulai??? kapan mau mebuktikan kebesaran ALLAH, ALLAH ngak lari, ALLAH sedang nunggu kita semua untuk menggedor Miracle dirinya."
Kalimat terakhir Ustad dipostingannya tanggal 18 November 2014.
   Postingan tadi menjadi pemecut dalam diri saya. Banyak sekali hal-hal yg saya tinggalkan. Padahal penolong yg hakiki adalah Allah. Semoga menjadi inspirasi untuk kita semua. Bahwa Allah adalah tempat mengadu dan meminta. Allah Hu Akbar
Wassalamualaikum wr... wb...

Sumber kisah :  https://www.facebook.com/LuqmanulhakimTeam?pnref=lhc

Minggu, 10 Agustus 2014

Iman pun mulai menurun

Sumber gambar diSini
Hati gelisah tak kala menutup aurat yang seharusnya penting. Kini seakan tak masalah jika terbuka. Padahal sudah belajar mengenakan pakaian syar'i walau masih sangat belajar. Namun, beberapa hari ini masih rada malas menutup aurat jika dirumah.
Biasa saja jika hanya mahram yang berlalu lalang dirumah, tapi ternyata keponakan laki-laki dari suami yang telah baliq sering keluar masuk rumah. Ahhh jadi merasa tak enak jika bertemu mereka dengan celana pendek dan kaos oblong pendek. Tapi jujur, cuaca panas ini sungguh menyiksa jika harus berpakaian panjang dirumah.
Ya Allah, kemaren-kemaren masih merasa bersalah jika keluar keteras atau duduk-duduk diruang tamu dengan pakaian pendek. Terakhir-terakhir ini kok ngak ada rasa bersalah itu ya?
Astafirullah hal adzim, ampun kan aku  ya Allah (jerit hati kecil ku), istiqomahkan hati yang masih penuh dosa ini. 
Rasa malu, tak enak, rasa bersalah adalah salah satu cara Allah menegur kita. Jika rasa itu mulai hilang artinya kita harus merasa waspada. Waspada kelemahan itu menjadi kebiasaaan. Menjadi terbiasa hingga yang baik dan buruk pun tercampur aduk.
Jika iman mulai turun sebaiknya segera mendekatkan diri kepada Allah dengan cara perbanyak istigfar, tadarus dan sholat. Semoga kita selalu istiqomah dan menjaga iman yang lemah ini. Selalu memperbaiki diri setiap hari dan selalu mendekatkan diri pada Allah SWT.
Bismillah....
Allah itu Maha pengampung, Semoga Allah mengampunkan kelalaian saya,
Allah itu Maha pemurah, dengan kasih sayang NYA Allah menyelipkan rasa malu pada hati kecil kita

Kamis, 05 Juni 2014

Ketika Allah menyapa lewat musibah

Sumber foto : http://bijakkata.wordpress.com
    Allah Hu Akbar, hampir lepas rasanya jantung ini berdegup ketika mobil itu hampir menabrak ku. Aku pun berusaha mengumpulkan sedikit tenaga dengan tubuh yang bergemetar.
Alhamdulillah ucapku, tidak ada yang luka sedikit pun. Namun, mobil yang hampir menabrakku mendapatkan goresan dan ada bagian yang retak akibat menabrak motor ku.
Tak hentinya aku berucap Astafirullah Hal Adzim, ingin menangis dalam kebingungan. Syukurlah Alhamdulillah tak ada yang mempermasalahkan siapa yang salah dan benar. Akhirnya kami berdamai.
Ya Allah, begitu besarnya cinta mu kepada hambamu ini. Sehingga masih diberikan waktu untuk bisa memperbaiki diri dalam keadaan yang sehat wa affiat.
    Semenjak mengikuti ODOJ dan mengganti cara berpakaian, hati ku jadi sangat mudah bersedih. Bukan karena duka, tapi karena hidayah Allah. Begitu manis menyapa disaat senang dan begitu tenang menyapa dikala musibah.
     Hari ini, dengan musibah yang menimpa ku. Aku bersyukur masih dalam keadaan sehat tanpa luka sedikit pun dan tanpa mengganti kelecetan mobil. Alhamdulillah, aku juga bersyukur masih bisa berkumpul bersama keluarga tercinta.
   Istiqomahkan lah hati ini ya Allah. Agar selalu merasakan nikmatnya cinta dan kasih sayang MU.



Rabu, 19 Maret 2014

Hijrah.... ( Masyaallah...Cantiknya jilbab syar'i 2)

   Alhamdulillah Allah memberikan kemudahan yang luar biasa kepada saya untuk berhijrah memperbaiki diri. Hanya melalui hal kecil yang entah mengapa membuat dampak yang sangat besar untuk kehidupan saya. Seperti tulisan saya sebelumnya, kekaguman saya hadir ketika melihat seseorang yang tampak anggun dan cantik dengan jilbab panjang menutupi tubuhnya. Masyaallah... mulai terbukalah mata hati saya. Memang begini lah harusnya, batin saya berkata. 
Bukankah didalam Al' quran telah jelas:

          يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاء الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ
                                                                        أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُور
 “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59)

 

    Sudah jelas dijabarkan dalam ayat tersebut, bahwa menggunakan hijab wajib untuk wanita yang mengaku dirinya muslimah. Tak menunggu lama, hari terbaik waktu itu tepatnya jum'at. Saya resmi berhijab walau masih dalam belajar.
   Ada ketenangan dan ketentraman dalam hati saya dan saya begitu mudah menangis saat menyadari betapa nikmatnya iman. Sholat terjaga dan saya begitu rajin mengintropeksi diri saya. Ya... saya merasa sangat berdosa selama ini. Dulu ketika melihat wanita yang dengan anggunnya memanjangkan khimarnya, mata saya memandang aneh. Hati saya mencelanya. Tapi, alhamdulillah Allah membuka pikiran saya mata saya untuk melihat dan merasakan nikmatnya.
   Allah menjawab doa saya, mungkin inilah jalannya dan dengan cara yang lembut menyentuh hati saya. 
Namun kemudian Allah menguji saya. Memulai sesuatu yan baik rupanya begitu sulit, begitu pula saat berpenampilan berbeda dari biasanya. Di komentari dan ditanya beberapa pertanyaan yang hanya membuat saya tersenyum. Niat saya hanya ingin memperbaiki diri dan bersyukur jika bisa memberi contoh yang baik untuk muslimah lainnya. 
Semoga kita selalu diberikan kemudahan dalam melakukan kebaikan, baik itu untuk diri kita sendiri maupun orang lain. Mengutip lirik sebuah lagu dari Oki Setiana Dewi "Hijab I'm In Love "
Ketika mengenalmu aku selalu bertanya
Sudah siapkah aku
Akhirnya ku mengerti ku telah jatuh hati
Dan menghijabkan diri

Indahnya oh teduhnya
Cantikkan hatiku

Hijab hijab i’m in love
Kau menjaga hati dan diriku ooh
Hijab hijab i’m in love
Ku tentram bersamamu

Semenjak bersamamu kau hiasi hariku
Ceriakan selalu
Takkan ku lepas lagi karena kau telah menjadi
Bagian dari hidupku

Indahnya oh teduhnya
Cantikkan hatiku

Hijab hijab i’m in love
Kau menjaga hati dan diriku ooh
Hijab hijab i’m in love
Ku tentram bersamamu

Mereka selalu berharap tuk menunda dirimu
Karena ingin menghijabkan hatinya dulu
Namun sampai kapankah semua bisa berubah
Karena hati manusia tempat khilaf dan salah oooh

Hijab hijab i’m in love
Kau menjaga hati dan diriku ooh
Hijab hijab i’m in love
Ku tentram bersamamu

Saya sudah jatuh cinta dan berhijrah. Semoga para muslimah juga diberikan kemudahan dan menyegerakan perintah Allah ini. Wassalamualaikum.....


Jumat, 10 Januari 2014

A Thousand Years

Lagi iseng sebenarnya, bukan karena tidak ada kerjaan tapi virus malas dan kantuk sedang menghampiri. Intip diluar hujan lagi deras-derasnya. Cuaca yang tadinya terang langsung berubah menjadi gelap. Ya... lagi sendirian dipolindes. Tumpukan data yang mau dikerjakan akhirnya terbengkalai. hihihihi. Duduk manis didepan meja kerja sambil melamun dan ditemani lagu A Thousand Years dari Christina Perri. Terciptalah sebuah puisi yang ditujukan spesial untuk suami tercinta Syarif Hairul Taufik.
Mari dibaca, bacanya juga harus sambil dengerin lagu A Thousand Years ya biar dapat feelnya :)

A thousand years

Mencintai mu adalah keindahan
Meski tanpa keabadian
Karena engkau adalah titipan tuhan
Wahai suami ku

Banyak doa yang ku pinta pada tuhan
untuk dirimu
Bukan hanya sekarang
Saat aku telah menjadi istrimu
Tapi sejak dulu, sejak aku
menginginkan engkau menjadi imam ku

Saat tuhan mengabulkan doa ku
Ketika engkau melamarku
Tetes air mata bahagia membasuh hatiku
Membuka harapanku akan hidup bersama mu

Tak berhenti ku syukuri nikmat tuhan ini
Menjadi bagian dari perjalanan hidup mu
Bersama mu dan selalu bersama mu

Memang kita tidak hidup 
1000 tahun lamanya
Tapi, semoga Allah mempertemukan kita disurga
Ketika kita telah tiada

Doa kan aku selalu menjadi lentera mu
Pengingat dan penerang saat jalanmu
terlalu jauh dan berliku
Doa kan juga aku selalu jadi makmum mu
Yang dengan setia mengamini semua permohonan mu

Satu harapan ku
Tidak ada 1000 tahun memang untuk kita
Tapi semoga hari-hari dan tahun-tahun
yang kita lewati ini
Cukup untuk menggambarkan 1000 
cinta ku untuk mu

waktu pacaran
resepsi kami

Rabu, 08 Januari 2014

Subhanallah... cantiknya jilbab syar'i

Berawal dari kejadian sore tadi, entah dari mana percakapan itu dimulai. Lalu aku dan kakak ipar ku Syarifah rakibah membicarakan tentang jilbab syar'i tapi tetap tampil modis. Dalam hati ku terselip keinginan itu. Tapi sadar masih pakai jilbab modis yang jauh dari syar'i. Pelan-pelan saja katanya lembut padaku. Kita mulai dengan mengumpulkan pakaian yang tidak memperlihatkan lekuk tubuh, jilbab panjang menutupi daerah dada dan pakai kaos kaki sambungnya. Insyaallah jawab ku pelan. 
Menurut ku memang seperti itulah harusnya seorang muslimah. Cantik bukan hanya karena lantaran memiliki paras yang menawan tapi juga dengan tubuh tertutup dan hati bersih. Ya...ya...ya... cantik memang punya banyak versi ya. Namun menurut aku semua wanita itu cantik, apalagi menggunakan hijab dan syar'i tentunya.
Bercerita sedikit tentang kisahku berhijab. Semenjak duduk dibangku SMA niatku untuk berhijab sudah hampir bulat. Tapi belum terlaksana karena mama menyarankan untuk sepuasnya menggunakan pakaian biasa tanpa hijab. Biar nanti kalau berhijab tidak harus dilepas-lepas katanya. Ya...dengan rasa sedikit kecewa akhirnya menggunakan hijab ditunda. Begitu lulus dan mulai kuliah. Niat berhijabku sudah sangat bulat. Mulai pertama kali melangkahkan kaki menuju Kota jakarta untuk kuliah. Aku pun mengenakan pakaian tertutup lengkap dengan hijab.
Jilbab ku yang masih jauh dari syar'i
Alhamdulillah hijab masih menjadi pakaian wajib ku setiap hari, tapi kalau dirumah masih dengan celana pendek dan kaos oblong. No no no.... mulai hari ini insyaallah celana pendek dan kaos oblongnya cukup dikamar aja ya. Tidak enak terlihat keponakan laki-laki atau siapapun yang bukan muhrim. hehehe baru insyaf rupanya.
Sebenarnya seperti apa sih memakai jilbab syar'i itu. Beberapa sumber menjelaskan seperti berikut :
1.  Menutup dan melindungi seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan
2.  Menggunakan jilbab atau kerudung yang menutupi daerah dada
3.  Menggunakan pakaian yang tidak memperlihat lekuk tubuh
4.  Menggunakan pakaian yang tidak menyerupai pakaian laki-laki
5.  Tidak memperlihatkan sedikitpun daerah kaki karena kaki juga merupakan aurat wanita
sumber : http://www.dakwatuna.com
Didalam Al-quran banyak sekali sumber yang menjelaskan cara berpakaian wanita muslimah. Kewajiban dalam menggunakannya juga dijelaskan dalam AlQur'an surah Al Ahzab (33) ayat 59 dan An Nur (24) ayat 31
Memulai memang susah jika tidak diawali dengan niat. Tapi kalau sudah berniat yuk segera dilaksanakan. Sesungguhnya sesuatu yang baik harus disegerakan. Tulisan saya ini tidak bermaksud mengurui. Tapi saya sendiri sedang belajar untuk menjadi lebih baik. Menjadi wanita muslimah yang lebih baik, istri yang lebih baik dan ibu yang lebih baik juga bagi anak-anak saya. 
Subhanallah cantiknya

Insyaallah pelan-pelan dan terus belajar. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat NYA kepada kita dan mempermudahkan jalan kita menuju kebaikan. Amin ya rabbal alamin

Sabtu, 07 Desember 2013

Rindu Kamu

Ahhh.... Sedih ketika abah pergi lagi. Karena harus mengikuti pelatihan kejakarta. Tidak bermaksud lebay tapi memang jauh dari dia itu sesuatu rasanya :(
Melewati siang dan malam dengan rutinitas yang sama tetap saja ada yang kurang rasanya. Ketika pulang kerumah dan menyiapkan malam malam. Suami tercinta sedang tidak ada dirumah. Sepi.....
Karena biasanya kalau dirinya ada dirumah suka bikin heboh sendiri. Suka godain aku atau bercanda sama anaknya. Sepi dan jenuh dirumah....
Afiqa dan abah

Biasanya nih kalau malam kita suka rebutan pakai laptop. Masing-masing sibuk sendiri. Akunya mau pakai karena mau cek bisnis ku, si abah mau pakai karena cek jaringan dan menggembangkan hobinya. Nah, kesempatan pakai laptop sepuasnya karena abah sedang tidak dirumah 1 minggu. Tapi sampai hari ini, hari ke 7 abah dijakarta, laptop duduk manis dimeja. Digunakan pas lagi mood aja. selebihnya ogah-ogahan. Dasar ya otaknya lemot akibat demam malarindu. cuit cuit.....
Senang, hari demi hari terlewati. cepat sekali waktu berlalu. Iya ngak???
Rasanya baru saja mengantar abah naik taksi mau kebandara. Besok abah sudah pulang. Mudah-mudahan dimudahkan dan dilancarkan dalam perjalanan ya abah. Aminnnnn
Kata abah, ngak bawa oleh-oleh ya ma. Iya iya ngk apa-apa. Asal pulang dengan selamat dan sehat sudah bersyukur sekali kok bah.
Yeaa afiqa dpt oleh2 topi dari abah, buat dipakai kepantai





Kamis, 07 November 2013

Bayi 1800 gram pertama ku

      Hari itu, hari ke 8 bayi mungil berat 1800 gram itu ku lihat. Napas yang sudah tidak teratur terdengar. Padahal dihari pertama kelahirannya, aku berharap bayi kecil ini akan sehat hingga dia dewasa. Lahir dalam keadaan prematur dengan polihidramnion (Air ketuban lebih banyak dari normal). Kebetulan ia anak ke lima. Lahir dengan berat badan 1800 gram sementara kulit ditelapak tangan dan kaki masih halus dan transparan. Aku menyarankan untuk dirujuk ke rumah sakit terdekat hari itu juga. 
     Di hari pertamanya kelahirannya, bayi kecil berat 1800 gram itu telah terpisah dari ibunya. Aku tak ada pilihan. Ia harus menerima perawatan lebih intensif. Setiap hari selama merawat ibunya dirumah, aku selalu bertanya tentang keadaannya. Alhamdulillah jawab si ayah, dihari kedua anaknya tersebut sudah stabil kondisinya. Tangan dan kakinya sudah mulai aktif bergerak, sudah bisa menangis. Artinya bayi kecil berat 1800 gram itu sudah bernapas dengan teratur. Senang, teramat senang mendengarnya. 
      Hari ke lima, aku menerima telpon dari bibi bayi kecil itu. Bayi kecil berat 1800 gram itu harus dirujuk ke rumah sakit yang memiliki fasilitas kesehatan lebih lengkap. Dari kota kami 2 jam waktu yang ditempuh untuk sampai kesana. Aku langsung kerumah sakit tempat bayi kecil itu dirawat, melihat keadaannya dan bertanya beberapa pertanyaan kepada kakak perawat yang sedang bertugas saat itu. Darinya ku dengar bahwa bayi tersebut tidak dapat buang air besar sehingga harus dilakukan pemeriksaan khusus untuk mengetahui keadaannya lebih lanjut. Setelah beberapa saat, segera ku hubungi ayah bayi mungil itu dan menganjurkan untuk segera membawa anaknya kerumah sakit lebih lengkap.
      Hari ke delapan, pagi hari ayah bayi kecil berat 1800 itu menelpon ku. Kabarnya membuat hati ku sedih, bayi kecil itu sudah mulai drop keadaannya. Sementara bayi kecil itu belum dapat dibawa ke rumah sakit rujukan pemerintah seperti yang direncanakan. Karena inkubator di rumah sakit tersebut telah penuh ditempati bayi-bayi yang juga menerima perawatan disana. Sedangkan jika dibawa kerumah sakit swasta dengan fasilitas lengkap, ayah bayi mengakui ketidakmampuannya untuk membiayai perawatan.
      Sesegera mungkin aku bergegas kerumah sakit tempat bayi itu dirawat, sampai disana perasaan ku sedih. Berbincang sedikit dengan beberapa perawat disana, aku diperbolehkan untuk melihat lebih dekat keadaan bayi kecil itu. Ya Allah sesak rasanya dada ku. Bayi kecil berat 1800 gram itu menarik napas pelan, terlihat susah sekali. Perutnya pun kelihatan membesar. Hampir menetes air mata ku. Kita hanya bisa berdoa, ucap perawat kepala ruangan bayi itu padaku. Diluar ruangan, wajah lelah sang ayah menyapaku. Ku bimbing ia untuk duduk disebelahku. Ku jelaskan keadaan bayi yang aku lihat didalam sana kepadanya. Sambil sesekali menabahkan perasaannya, kita sudah melakukan yang terbaik ucap ku. Semoga bayi kecil itu sehat dan membaik keadaannya. 
     Jam 13.40 wib hari ke delapan, telpon ku berdering. Mendengar telpon itu saja firasatku sudah tertuju pada bayi kecil itu. Dan benar, ketika telpon ku angkat dari sana ku dengar suara berat ayah sang bayi berkata. Bayi saya sudah meninggal bu, ucapnya. Perasaan ku sedih dan aku ikut berduka dan merasa kehilangan. Aku, ayah, keluarga bahkan perawat dan dokter dirumah sakit telah berusaha. Allah telah menentukan jalannya. Bayi kecil berat 1800 gram itu telah meninggal. Menghilang sudah semua deritanya dihari kedelapan ia hidup didunia.

Minggu, 03 November 2013

My wedding

Lagi iseng2 ngk ada kerjaan malam mingguan. Posting foto-foto wedding aja deh sambil mengingat-ingat kenangan manis ketika menjadi raja dan ratu sehari. 
Tepatnya 8 Juni 2011 yang lalu ketika itu status singel yang selama 23 tahun disandang berubah total menjadi seorang istri.

Hari akad nikah
Haru dan senang menghiasi hari itu. Haru ketika akad nikah, mama tercinta tidak dapat melihat putri tercintanya menikah karena mama sudah meninggal. Haru ketika melihat bapak yang tertunduk meneteskan air mata karena putri tercintanya sudah menikah. Haru ketika paman dan bibi juga ikut menangis karena keponankannya sudah menemukan jodohnya. Sungguh kenangan yang tak ingin dan tak mudah untuk dilupakan
Nenek tercinta yang lagi duduk disebelah bapak juga ikut menangis
Walaupun kurang tidur dan harus bangun pagi demi persiapan dihari resepsi, tidak mengurangi kebahagiaan ku dihari itu. Tetap tampil dengan wajah ceria dan sumringan. Kata tukang fotonya, pengantin wanita ngk perlu capek-capek disuruh senyum, sudah senyum terus :)
my wedding

Semoga pernikahan ini awet sampai kakek nenek dan selalu harmonis. Berharap hanya maut yang memisahkan.

Jumat, 25 Oktober 2013

Suka duka menjadi mahasiswi kebidanan

Sedang praktek
       Enak ngak sih jadi mahasiswa kebidanan?
jujur... jadi mahasiswa itu ngak ada yang enak. Mau jurusan apapun. Dukanya banyak tugas, ketemu kakak senior yang galaknya dll. Apalagi kuliah diluar pulau. Jauh dari kedua orangtua.
Tapi karena keinginan dan tekat utuk menjadi bidan, beban berat itu pun siap untuk dilalui selama 3 tahun kedepan. Jauh dari orang tua, bukan itu saja yang membuat kaki sulit melangkah tapi juga jauh dari kekasih hati. Eaaa... Alhandulillah sudah jadi suami sekarang.
        Tahun pertama ternyata begitu berat, cobaan mulai menghimpit. Mulai dari mengatur keuangan sampai didekati kakak kelas keperawatan hingga tidak enak hati saat tahu ternyata si kakak kelas tersebut sudah punya pacar satu kampus. Tapi tahun pertama juga penuh dengan kebahagiaan. Punya teman satu kamar yang baik-baik, foto-foto, masak-masak dan serunya persiapan Capping day. 
Ada cerita seru yang tak bisa dilupakan saat Capping day. Walau kedua orang tua tak bisa hadir karena butuh biaya besar untuk kejakarta. Serunya hari Capping day adalah hari pertama kami memakai pakaian putih dan seragam mahasiswi kebidanan. Selain itu pengumuman mahasiswi berprestasi semester pertama.
Was-was dan deg-degan ya menunggunya. Alhamdulillah sesuai prediksi nama ku dipanggil sebagai mahasiswi berprestasi peringkat pertama dengan IPK 3,42. Senang yang tak terhingga, selain itu juga berhak mendapatkan beasiswa pendidikan dari kampus.
Tahun kedua mulai banyak praktek keluar kampus. Lahan praktek adalah Puskesmas dan RS disekitar jakarta. Banyak kenangan yang tak bisa dilupakan.

Alhamdulillah bersyukur luar biasa. Semua perjuangan dan pengorbanan selama 3 tahun akhirnya selesai. Sekarang walau masih dalam proses belajar dan mencari pengalaman tapi sudah mampu menolong beberapa persalinan. Berharap dan berharap sekali bisa menjadi bidan profesional yang mampu membantu semua kelahiran tanpa masalah, sangat tidak ingin menambah daftar angka kematian ibu dan anak.

Bahagia bisa membantu persalinan bayi-bayi ini